#Nasional

Pentingnya Peran Orang Tua dalam Mencegah Risiko Child Grooming melalui Pola Asuh yang Tepat

Elgangga – Tindak child grooming—sebuah upaya manipulasi oleh pelaku untuk mendapatkan kepercayaan anak sebelum melakukan eksploitasi—merupakan ancaman serius yang memerlukan perhatian ekstra dari orang tua. Psikolog klinis, Gita Aulia Nurani, M.Psi., menekankan bahwa meskipun ancaman ini dapat menimpa siapa saja, pola asuh dan kualitas hubungan dalam keluarga memiliki pengaruh besar terhadap tingkat kerentanan anak.

Menurut Gita, pola asuh yang ekstrem, baik yang bersifat terlalu membebaskan (permisif) maupun terlalu mengekang (otoriter), dapat menciptakan celah yang dimanfaatkan oleh pelaku. Anak yang kurang terbiasa berdialog dengan orang tua cenderung mencari pemenuhan kebutuhan emosional dari pihak luar. Sementara itu, pola asuh otoriter sering kali membuat anak merasa enggan atau takut untuk bersikap terbuka kepada orang tua saat menghadapi situasi yang tidak nyaman.

Beberapa poin krusial yang perlu diperhatikan orang tua meliputi:

  • Pentingnya Kedekatan Emosional: Kebutuhan akan perhatian dan afeksi yang tidak terpenuhi di lingkungan rumah dapat membuat anak lebih mudah terpikat oleh pelaku yang memberikan perhatian intens, pujian, atau hadiah.
  • Edukasi Batasan Tubuh dan Consent: Anak perlu diajarkan sejak dini mengenai privasi, batasan tubuh, serta hak mereka untuk menolak perlakuan atau sentuhan yang tidak diinginkan, termasuk dari orang dewasa.
  • Pengawasan Digital: Orang tua disarankan untuk lebih bijak dalam memantau aktivitas digital anak dan membatasi penyebaran informasi pribadi yang terlalu detail di media sosial, karena hal tersebut dapat dimanfaatkan pelaku untuk mempelajari kebiasaan dan profil anak.

Tanda-Tanda Kewaspadaan bagi Orang Tua Gita mengingatkan orang tua agar sigap mendeteksi perubahan perilaku drastis pada anak, di antaranya:

  1. Anak menjadi lebih tertutup atau sering menyembunyikan aktivitas online-nya.
  2. Munculnya perubahan emosi yang tidak menentu.
  3. Anak tampak menjalin kedekatan intens dengan seseorang yang baru dikenal.
  4. Anak menerima hadiah atau barang tanpa keterangan yang jelas.
  5. Menunjukkan sikap defensif, cemas, atau mudah marah ketika ditanya perihal orang tertentu.

Langkah Preventif untuk Melindungi Anak Sebagai langkah mitigasi, orang tua dianjurkan untuk membangun komunikasi yang hangat agar tercipta rasa aman bagi anak untuk bercerita. Selain itu, penting untuk menanamkan pemahaman bahwa anak memiliki hak untuk berkata “tidak” pada situasi yang membuatnya tidak nyaman. Pengawasan digital yang sesuai dengan usia serta pemberian edukasi mengenai relasi yang sehat menjadi fondasi utama dalam melindungi anak dari risiko manipulasi pihak luar.

Sumber : Kumparan.com
Editor : DVI
Baca Juga :

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *